
Beternak menjadi salah satu peluang usaha jangka panjang yang cukup menggiurkan. Beberapa ide usaha ternak yang cukup menjanjikan yaitu ternak ayam pedaging, ayam petelur, ayam kampung, bebek pedaging, bebek petelur, telur puyuh dan lainnya.
Beberapa ide usaha ternak ini bisa dimulai dengan modal kurang dari 10 juta. Namun dengan pangsa pasar yang cukup luas dan punya market yang bagus.
Ayam dan telur adalah jenis bahan konsumsi yang disukai oleh banyak orang dan bisa dijadikan banyak jenis olahan. Jika kamu buka usaha ini, tentu akan sangat menjanjikan.
Gak cuma itu, usaha ini juga cocok dijalankan baik di daerah perkotaan atau bahkan di perkampungan sekalipun.
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas tadi, banyaknya binatang yang bisa dijadikan hewan ternak. Ini merupakan salah satu faktor dalam keberhasilan mendirikan usaha ternak.
Usaha ternak ini hampir sama halnya dengan bisnis dalam bidang kuliner yang terdapat banyak ide untuk mendirikan bisnis tersebut.
Usaha ternak sebenarnya merupakan usaha yang memiliki lebih dari 1 barang yang dapat dihasilkan. Contohnya jika kamu usaha ternak sapi, kamu bisa menjual daging serta susu yang dihasilkan.
Untuk menambah referensi ide usaha ternak, saya sudah menyiapkan beberapa ide usaha ternak di bawah ini:
Ayam broiler merupakan hasil persilangan berbagai ras ayam unggul yang dirancang khusus untuk menghasilkan daging berkualitas dalam waktu singkat.
Jenis ayam ini memiliki tingkat pertumbuhan yang sangat cepat dan efisiensi pakan yang baik, menjadikannya pilihan utama peternak komersial.
Permintaan daging ayam di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Ayam broiler dapat dipanen pada usia 30-35 hari dengan bobot rata-rata 1,5-2 kg per ekor.
Modal Usaha: Rp 15-50 juta (skala kecil 500-1000 ekor)
Analisa Persaingan: Tinggi, banyak peternak besar dan kecil
Kelebihan:
Kekurangan:
Ayam petelur adalah hasil seleksi dan persilangan yang difokuskan untuk menghasilkan telur dalam jumlah besar. Ayam ini mulai bertelur pada usia 18-20 minggu dan mencapai puncak produksi pada usia 22-42 minggu dengan kemampuan menghasilkan 280-320 butir telur per tahun.
Modal Usaha: Rp 20-75 juta (500-1000 ekor)
Analisa Persaingan: Sedang, pasar masih terbuka luas
Kelebihan:
Kekurangan:
Ayam kampung atau ayam buras (bukan ras) memiliki keunggulan adaptasi tinggi terhadap lingkungan lokal. Dagingnya memiliki tekstur yang lebih kenyal dengan rasa yang khas, sementara telurnya kaya nutrisi dengan kandungan protein 13 gram dan energi 150 kalori per butir.
Modal Usaha: Rp 5-20 juta (100-300 ekor)
Analisa Persaingan: Rendah hingga sedang
Kelebihan:
Kekurangan:
Bebek peking adalah bebek domestik yang berasal dari Amerika, dikenal dengan pertumbuhan cepat dan kualitas daging yang baik. Bebek ini dapat dipanen pada usia 45-50 hari dengan bobot 1,5-2,5 kg. Dagingnya banyak diminati restoran dan hotel untuk menu khusus.
Modal Usaha: Rp 10-30 juta (300-500 ekor)
Analisa Persaingan: Rendah, masih sedikit peternak
Kelebihan:
Kekurangan:
Bebek petelur lokal atau entog memiliki kemampuan bertelur yang baik dengan masa produktif dimulai usia 5-6 bulan. Telur bebek memiliki ukuran lebih besar dari telur ayam dan banyak digunakan untuk membuat telur asin atau kue tradisional.
Modal Usaha: Rp 8-25 juta (200-400 ekor)
Analisa Persaingan: Rendah
Kelebihan:
Kekurangan:
Burung puyuh adalah unggas kecil yang dapat dimanfaatkan untuk telur dan dagingnya. Telur puyuh kaya protein dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan. Burung puyuh mulai bertelur pada usia 6-8 minggu dengan produksi 200-300 butir per tahun.
Modal Usaha: Rp 3-10 juta (200-500 ekor)
Analisa Persaingan: Rendah
Kelebihan:
Kekurangan:
Udang vaname atau udang kaki putih adalah komoditas perikanan bernilai tinggi yang banyak diekspor. Udang ini dapat dibudidayakan di tambak dengan sistem intensif maupun semi-intensif. Masa panen 90-120 hari dengan produktivitas 8-15 ton per hektar.
Modal Usaha: Rp 50-200 juta per hektar
Analisa Persaingan: Sedang hingga tinggi
Kelebihan:
Kekurangan:
Lebah madu menghasilkan madu, royal jelly, bee pollen, dan propolis yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Satu koloni lebah dapat menghasilkan 15-30 kg madu per tahun tergantung ketersediaan nektar di lingkungan sekitar.
Modal Usaha: Rp 10-30 juta (10-20 kotak)
Analisa Persaingan: Rendah hingga sedang
Kelebihan:
Kekurangan:
Ulat sutra menghasilkan kokon yang dapat dipintal menjadi benang sutra berkualitas tinggi. Industri tekstil sutra masih memiliki pasar yang baik, terutama untuk produk-produk mewah dan tradisional.
Modal Usaha: Rp 5-15 juta
Analisa Persaingan: Sangat rendah
Kelebihan:
Kekurangan:
Cacing tanah dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pakan ternak, pupuk organik (kascing), dan ekstrak untuk suplemen kesehatan. Cacing mengandung protein tinggi dan mudah dibudidayakan.
Modal Usaha: Rp 2-8 juta
Analisa Persaingan: Sangat rendah
Kelebihan:
Kekurangan:
Kambing adalah ternak multiguna yang dapat dimanfaatkan dagingnya yang rendah lemak jenuh dan kaya protein, serta susunya yang bergizi tinggi. Kambing juga relatif mudah dipelihara dan adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan.
Modal Usaha: Rp 15-50 juta (10-20 ekor)
Analisa Persaingan: Sedang
Kelebihan:
Kekurangan:
Domba dapat dimanfaatkan untuk daging, susu, kulit, dan bulunya. Bulu domba dapat diolah menjadi wol untuk industri tekstil. Domba memiliki tingkat reproduksi yang baik dengan kemampuan melahirkan anak kembar.
Modal Usaha: Rp 20-60 juta (10-15 ekor)
Analisa Persaingan: Rendah hingga sedang
Kelebihan:
Kekurangan:
Sapi potong adalah ternak besar yang dikhususkan untuk produksi daging. Indonesia masih mengimpor daging sapi, sehingga peluang pasar domestik masih terbuka luas. Sapi dapat dipanen pada usia 18-24 bulan dengan bobot 350-500 kg.
Modal Usaha: Rp 50-150 juta (5-10 ekor)
Analisa Persaingan: Tinggi dari importir, rendah dari peternak lokal
Kelebihan:
Kekurangan:
Sapi perah menghasilkan susu yang kaya kalsium dan protein. Seekor sapi perah dapat menghasilkan 15-25 liter susu per hari. Industri pengolahan susu di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran gizi masyarakat.
Modal Usaha: Rp 75-200 juta (3-8 ekor)
Analisa Persaingan: Sedang
Kelebihan:
Kekurangan:
Burung parkit atau lovebird adalah burung hias yang populer di kalangan kicau mania. Burung berkualitas dapat dijual dengan harga tinggi, terutama yang memiliki suara merdu atau warna bulu yang unik.
Modal Usaha: Rp 5-20 juta (20-50 pasang)
Analisa Persaingan: Tinggi
Kelebihan:
Kekurangan:
Ikan lele adalah komoditas perikanan air tawar yang mudah dibudidayakan dan memiliki tingkat konsumsi tinggi di masyarakat. Lele dapat dipanen dalam 2-3 bulan dengan kepadatan tinggi di kolam terpal atau beton.
Modal Usaha: Rp 8-25 juta (2-3 kolam)
Analisa Persaingan: Tinggi
Kelebihan:
Kekurangan:
Kelinci adalah ternak yang dapat dimanfaatkan dagingnya yang rendah kolesterol dan bulunya untuk kerajinan. Kelinci berkembang biak sangat cepat dengan masa bunting hanya 30 hari dan dapat beranak 4-8 ekor sekali melahirkan.
Modal Usaha: Rp 10-30 juta (20-50 ekor)
Analisa Persaingan: Rendah
Kelebihan:
Kekurangan:
Budidaya walet menghasilkan sarang burung yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi untuk pasar ekspor, terutama ke China. Sarang walet dipercaya memiliki khasiat kesehatan dan kecantikan.
Modal Usaha: Rp 100-500 juta (rumah walet)
Analisa Persaingan: Sedang
Kelebihan:
Kekurangan:
Ikan gurame adalah ikan konsumsi premium dengan harga jual tinggi. Gurame memiliki rasa daging yang gurih dan menjadi favorit di restoran-restoran. Masa pemeliharaan 8-12 bulan hingga ukuran konsumsi.
Modal Usaha: Rp 15-40 juta (2-3 kolam)
Analisa Persaingan: Rendah hingga sedang
Kelebihan:
Kekurangan:
Jangkrik adalah serangga yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan burung, pakan ikan, dan bahkan konsumsi manusia sebagai sumber protein alternatif. Budidaya jangkrik tidak membutuhkan lahan luas dan dapat dilakukan di dalam ruangan.
Modal Usaha: Rp 3-10 juta
Analisa Persaingan: Rendah
Kelebihan:
Kekurangan:
Berikut adalah beberapa tips sukses memulai usaha peternakan:
Sebelum memulai, lakukan survei pasar untuk memahami:
Usaha ternak memang tidak mudah untuk dijalani, apalagi jika Anda memang tidak memiliki pengalaman yang cukup. Nah, berikut adalah beberapa hambatan yang sering dialami ketika menjalankan usaha ternak:
Banyak peternak pemula kesulitan memulai atau mengembangkan usaha karena keterbatasan modal. Biaya awal seperti pembelian bibit, pakan, kandang, dan perawatan cukup besar.
Kurangnya pemahaman tentang teknik beternak, kesehatan hewan, atau manajemen usaha bisa menyebabkan kegagalan. Kesalahan penanganan bisa membuat ternak stres atau sakit.
Penyakit seperti flu burung, antraks, atau penyakit mulut dan kuku dapat menular dengan cepat dan menyebabkan kerugian besar. Pencegahan dan penanganan yang salah memperparah keadaan.
Harga pakan sering berubah dan bisa sangat tinggi, sehingga mempersempit margin keuntungan. Peternak jadi sulit memprediksi biaya operasional.
Harga jual hasil ternak (daging, telur, susu) bisa turun drastis saat pasokan melimpah atau permintaan menurun, sehingga keuntungan jadi tidak pasti.
Peternak kecil sering kesulitan menjual hasil ternaknya karena minimnya akses ke pasar besar atau keterbatasan jaringan distribusi.
Perubahan cuaca ekstrem atau musim kemarau panjang bisa memengaruhi ketersediaan pakan alami dan kesehatan ternak.
Tidak semua daerah memiliki program bantuan atau pelatihan peternakan. Akses ke kredit usaha rakyat (KUR) atau subsidi juga tidak merata.
Beberapa usaha ternak skala menengah ke atas harus mengikuti aturan lingkungan dan perizinan tertentu. Prosedur yang rumit bisa menjadi hambatan.
Masuknya produk impor dengan harga murah atau praktik usaha yang tidak fair dapat mematikan usaha peternak lokal.
Itulah beberapa referensi dalam ide usaha ternak yang tentunya dapat kamu coba. Namun kamu juga harus bijak serta konsisten saat mengelolanya, karena modal yang digunakan untuk mendirikan usaha di atas tersebut cukuplah besar. Cukup sekian dulu yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat.