
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prediksi musim kemarau untuk tahun 2025. Beberapa wilayah di Indonesia diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dengan intensitas kekeringan yang bervariasi.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa transisi dari musim hujan ke musim kemarau akan terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia.
“Awal musim kemarau 2025 diprediksi akan mulai terasa pada Mei hingga Juni di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun, beberapa daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Papua masih akan mengalami hujan hingga Juli,” ujar Dwikorita dalam keterangan resminya.
Untuk wilayah Jawa Barat, BMKG memperkirakan musim kemarau akan dimulai pada pertengahan Mei 2025. Wilayah pantai utara Jawa Barat seperti Indramayu, Cirebon, dan Subang diproyeksikan akan mengalami kekeringan lebih awal.
“Puncak musim kemarau di Jawa Barat diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2025. Masyarakat diimbau untuk mulai melakukan penghematan air sejak dini,” terang Kepala Balai Besar BMKG Wilayah II Jabar.
Sementara itu, Jawa Timur diprediksi akan mengalami musim kemarau yang cukup panjang. Menurut data BMKG, awal musim kemarau di wilayah ini diperkirakan terjadi pada akhir Mei hingga awal Juni 2025.
“Wilayah seperti Madura, Probolinggo, dan Situbondo perlu waspada karena diprediksi akan mengalami kekeringan yang lebih intens dibandingkan tahun sebelumnya,” kata juru bicara BMKG Jatim.
Puncak musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2025, dengan potensi hari tanpa hujan yang bisa mencapai 60 hari berturut-turut di beberapa wilayah.
BMKG membagi prediksi musim kemarau 2025 untuk seluruh Indonesia sebagai berikut:
“Puncak musim kemarau secara nasional diperkirakan akan terjadi pada Agustus hingga September 2025, dengan beberapa wilayah mengalami perpanjangan hingga Oktober,” ujar Dwikorita.
BMKG juga menyoroti kemungkinan fenomena El Niño yang dapat mempengaruhi intensitas musim kemarau 2025.
“Meskipun saat ini kondisi masih netral, kami memantau potensi munculnya El Niño lemah yang dapat mempengaruhi pola cuaca di Indonesia, termasuk memperpanjang periode kemarau di beberapa wilayah,” jelasnya.
Menghadapi prediksi tersebut, BMKG menghimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah antisipasi dini. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:
“BMKG akan terus memperbarui informasi terkait perkembangan musim kemarau 2025. Masyarakat dapat mengakses informasi terkini melalui aplikasi dan website resmi BMKG,” tutup Dwikorita.
Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga telah memulai koordinasi untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap ketahanan pangan dan potensi kebakaran hutan dan lahan.